Sekedar Coretan Biasa

Bulan Ramadhan, Bulan Penyetaraan Perut

20 May 2017 - 00:02 WIB

Di dalam kehidupan, ada dua persepsi yang ditujukan bagi manusia jika dilihat dari hartanya yakni si miskin dan si kaya. Keduanya seringkali disikapi dengan perlakuan yang berbeda. Dimana, seseorang lebih menghargai si kaya dibandingkan dengan si miskin. Hal itu mungkin saja karena ada anggapan yang memandang bahwa si kaya derajatnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan si miskin.

Namun, itu hanya pandangan dari manusia dan tidak berlaku bagi Alloh Swt. Alloh akan memandang keduanya sama, dan di Bulan Ramadhan itulah ‘perut’ antara si miskin dan si kaya akan disetarakan. Mengapa? Karena keduanya memiliki kewajiban yang sama, yakni berpuasa dari waktu pagi hari (setelah imsak) hingga sore hari (setelah magrib).

Selama berpuasa, perut si miskin dan si kaya akan sama-sama merasakan lapar. Tak ada satupun dari manusia lainnya yang akan mengistimewakan dengan memperlakukan perut si kaya lebih baik. Misalnya saja, ketika seseorang melihat si kaya datang di siang hari dan si kaya itu terlihat lesu karena sedang berpuasa. Tentunya seseorang itupun tidak akan berani menghampiri dan menawarkan minuman segar dan makanan yang enak untuk dihidangkan pada saat itu juga. Karena dia pun tahu bahwa si kaya sedang menjalankan ibadah puasa.

Bulan Ramadhan memang bulan yang istimewa. Pantas saja jika bulan ini disebut-sebut sebagai bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang selalu dinantikan oleh seluruh umat manusia yang beragama Islam. Bukan hanya karena segala amal akan dilipatgandakan, namun juga karena bulan ini bisa memberikan keadilan bagi si miskin dan si kaya. Dalam hal ini, perut si miskin maupun si kaya sama-sama merasakan nikmatnya menahan rasa lapar hingga menuju nikmatnya waktu berbuka puasa.

Ada alasan tersendiri mengapa penulis membahas Bulan Ramadhan yang dikaitkan dengan perut. Salah satunya adalah isi perut seringkali dijadikan sebagai alasan mengapa semua orang rela untuk banting tulang.

Tentu Anda juga pernah mendengar atau bahkan juga sama pernah berkata “Demi sesuap nasi saya bekerja keras dalam mencari nafkah”. Padahal, sebenarnya sesuap nasi itu hanyalah sebuah ungkapan saja. Dimana faktanya, kita tak sadar bahwa sebenarnya kita bekerja keras hanya untuk memenuhi gaya hidup bukan sekedar kebutuhan hidup.

Bukan hanya itu saja, isi perut juga seringkali dijadikan sebagai jalan untuk mencari nafkah. Maaf! Misalnya saja ada seorang peminta-minta yang seringkali berucap, “Kasihani saya karena seharian belum makan”.

Akhir kata dari saya, semoga kita semua khususnya yang Muslim bisa selalu diberi kesehatan dan umur panjang oleh Alloh Swt. Sehingga kita semua bisa menjalankan ibadah puasa yang sebentar lagi akan tiba. Mohon maaf lahir dan bathin…!!!


TAGS   opini / ramadan /


Author

Seseorang yang ingin menjadi "Pembelajar"

Recent Post

Recent Comments

Archive